Google+

Aplikasi Program SPSS Dalam Menyelesaikan Kasus Uji Statistika Parametrik (Bagian 2: Uji t Satu Sampel)

8

July 21, 2013 by ilhamzen09

Uji t satu sampel adalah jenis uji statistika Parametrik yang bertujuan untuk menguji apakah terdapat perbedaan rata-rata populasi dengan sebuah data tertentu.

Contohnya adalah seorang peneliti ingin membandingkan apakah terdapat perbedaan secara signifikan antara tanaman padi yang ditanam menggunakan VARIETAS BARU, dengan tanaman padi yang ditanam menggunakan VARIETAS EXISTING (varietas yang selama ini digunakan oleh petani lokal).

a. Bila rata-rata produktivitas tanaman padi yang ditanam menggunakan VARIETAS EXISTING adalah masing-masing: 5,00; 7,00; 6.50; 7.50; 7,00 dan 6,00 ton/ha,

b. Sedang produktivitas tanaman padi yang ditanam menggunakan VARIETAS BARU adalah 8 ton/ha.

Untuk menyelesaikan kasus tersebut, dapat menggunakan uji t satu sampel. Berikut ini kami sajikan video tutorial yang berisi panduan, step by step, untuk menyelesaikan kasus uji t satu sampel tersebut dengan menggunakan program SPSS.

8 thoughts on “Aplikasi Program SPSS Dalam Menyelesaikan Kasus Uji Statistika Parametrik (Bagian 2: Uji t Satu Sampel)

  1. empeeltobing says:

    Dalam pengujian hipotesis ini, bila Sig. (2-tailed) atau p-value adalah 0,05 sehingga p-value = alpha (0,05 = 0,05), apakah Ho diterima atau ditolak? Mohon jawaban.

    • ilhamzen09 says:

      Kriteria pengujian hipotesis dengan pendekatan probabilistic (p value : α) adalah: bila p <= α (lebih kecil atau sama dengan α), maka H0 ditolak.
      Jadi bila menggunakan nilai alpha 0,05, dan hasil perhitungan menunjukkan nilai p-value = 0,05 (p-value = alpha) maka H0 ditolak, yang artinya terdapat perbedaan rata-rata antar kedua perlakuan

      • empeeltobing says:

        Agak membingungkan juga pengujian yang dilakukan. Ho adalah = (sama dengan , sedangkan H1 =/ (tidak sama dengan). Berarti ujinya harus dua arah, sehingga alpha = 5% harus dibagi dua. Sisi kiri 2,5% dan sisi kanan 2,5%, Selanjutnya, kriteria pengujiannya harus dibuat: Bila -sig <= alpha <= sig, Ho diterima. Tetapi, bila -sig alpha, Ho ditolak. Kalau ujinya satu arah sisi kiri, bila -sig <= alpha, Ho diterima. Sedangkan bila ujinya satu arah sisi kanan, bila sig <= alpha, Ho diterima. Artinya, setiap bentuk pengujian (dua arah, satu arah sebelah kiri, atau satu arah sebelah kanan), bila sig <= alpha, Ho harus diterima, bukan ditolak. Mohon dikritisi bial saya salah.

  2. empeeltobing says:

    Reply saya terdahulu saya ralat menjadi: Agak membingungkan juga pengujian yang dilakukan. Ho adalah = (sama dengan) , sedangkan H1 =/ (tidak sama dengan). Berarti ujinya harus dua arah, sehingga alpha = 5% harus dibagi dua. Sisi kiri 2,5% dan sisi kanan 2,5%, Selanjutnya, kriteria pengujiannya harus dibuat: Bila -sig <= alpha alpha, Ho ditolak atau kalau sig > alpha, Ho ditolak. Kalau ujinya satu arah sisi kiri, bila -sig <= alpha, Ho diterima. Sedangkan bila ujinya satu arah sisi kanan, bila sig <= alpha, Ho diterima. Artinya, setiap bentuk pengujian (dua arah, satu arah sebelah kiri, atau satu arah sebelah kanan), bila sig <= alpha, Ho harus diterima, bukan ditolak. Mohon dikritisi bila saya salah.

    • ilhamzen09 says:

      Maaf, mudah-mudahan sy tdk salah tangkap maksud pertanyaannya:
      Kriteria pengujian yang anda maksud, adalah menggunakan pendekatan klasik, sedang kriteria yang saya gunakan adalah pendekatan probabilistic,
      Pendekatan klasik adalah dengan membandingkan nilai perhitungan uji statistik dengan nilai pada tabel, bila pendekatan ini digunakan, maka betul seperti kata anda, daerah penerimaan Ho adalah “-t tabel <= t hitung <= t tabel, atau dengan kata lain Ho ditolak bila “t hitung>t tabel”.
      Namun bila menggunakan angka probabilitas, maka pendekatannya berbeda. Nilai p dicari terlebih dahulu lalu kemudian dibandingkan dengan nilai alpha. Bila merujuk pada contoh kasus diatas (produktivitas tanaman dari varietas padi yang berbeda), terlihat bahwa nilai t-nya adalah 4,108, yang bila dikonversi ke dalam tabel distribusi t (tabel t dua arah), maka didapat nilai significance sebesar 0,009. Angka inilah yang dibandingkan dengan nilai alpha (α=0,05). Dimana kriteria pengujiannya adalah: bila p <= α maka H0 ditolak.

  3. empeeltobing says:

    Pada prinsipnya, ancangan mana pun yang digunakan, klasik atau probabilistic, kesimpulannya harus sama. Saya masih tetap berpendapat, bila t hitung = t tabel, Ho diterima (klasik), dan bila p = alpha (probabilistic), Ho diterima (bukan ditolak). Perlu juga diperhatikan bahwa model pengujian hipotesis terdiri dari tiga bentuk: (a) Uji dua arah, kiri dan kanan: Ho: rata-rata = 16 kg lawan H1: rata-tara =/ 16 kg; (b) Uji satu arah sisi kiri: Ho: rata-rata >= 16 kg lawan H1: rata-rata < 16 kg; (c) uji satu arah sisi kanan: Ho: rata-rata 16 kg. Banyak saya baca buku Statistika di Indonesia tidak membuat pengujian tersebut seperti saya uraikan di atas sehingga sering kriteria pengujiannya menjadi rancu. Kebanyakan dibuat demikian: (a) Uji dua arah, kiri dan kanan: Ho: rata-rata = 16 kg lawan H1: rata-rata =/ 16 kg; (b) Uji satu arah sisi kiri: Ho: rata-rata > 16 kg lawan H1: rata-rata < 16 kg; (c) uji satu arah sisi kanan: Ho: rata-rata 16 kg. Logikanya, = lawannya adalah =/, , dan >= lawannya adalah <. Sering sekali orang menulis bahwa . Lalu, > lawannya adalah adalah <. Dalam pengujian hipotesis tidak boleh demikian, karena bila misalnya dalam proses pengujian diperoleh t hitung = t tabel (berimpit), maka dalam komposisi pengujian yang saya uraikan di atas, Ho harus diterima, bukan ditolak (karena komposisi tersebut memakai =). Dalam pengujian hipotesis. hasil akhirnya kita harus memilih secara tegas, menerima Ho (berarti menolak H1), menolak Ho (berarti menerima H1). Tidak boleh abu-abu. Tetapi, bila komposisi pengujiannya: > lawan <, atau , hasilnya akan abu-abu!

  4. empeeltobing says:

    Mlaaf (postingnya sering terpotong) saya ralat: …..(b) Uji satu arah sisi kiri: Ho: rata-rata >= 16 kg lawan H1: rata-rata < 16 kg; (c) uji satu arah sisi kanan: Ho: rata-rata 16 kg. Banyak saya baca buku Statistika di Indonesia tidak membuat pengujian tersebut seperti saya uraikan di atas sehingga sering kriteria pengujiannya menjadi rancu. Kebanyakan dibuat demikian: (a) Uji dua arah, kiri dan kanan: Ho: rata-rata = 16 kg lawan H1: rata-rata =/ 16 kg; (b) Uji satu arah sisi kiri: Ho: rata-rata > 16 kg lawan H1: rata-rata < 16 kg; (c) uji satu arah sisi kanan: Ho: rata-rata < 16 kg lawan H1: rata-rata < 16 kg. Logikanya………

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: