Google+

Kompos

Leave a comment

March 20, 2013 by ilhamzen09

Definisi Kompos

Kompos adalah hasil fermentasi atau dekomposisi dari bahan-bahan organik seperti tanaman, hewan atau limbah organik lainnya. Bahan yang terbentuk mempunyai berat volume yang lebih rendah dari pada bahan dasarnya dan bersifat stabil.

Dalam proses pengomposan, bahan organik tidak hanya dihancurkan secara fisik tetapi juga terjadi penguraian kimiawi terhadap zat-zat organik ke dalam bentuk anorganik yang lebih sederhana dan sifatnya tersedia bagi tanaman.

Prinsip Pengomposan

Prinsip pengomposan adalah menurunkan C/N ratio bahan organik hingga sama dengan C/N tanah (<20). Rasio C/N adalah perbandingan antara kandungan C (karbon) dan N (Nitrogen) dalam tanah, yang selalu berubah dalam skala waktu. Tabel berikut bisa menggambarkan hubungan antara kandungan karbon (C) dan Nitrogen (N) serta rasio C/N datam tanah.

Dalam kondisi pengomposan yang optimal, kandungan senyawa organik (dalam hal ini berupa karbon karena 44% senyawa organik tersusun dari unsur karbon) akan menurun akibat terjadi proses mineralisasi, yaitu proses perubahan senyawa organik menjadi mineral (utamanya nitrogen). Kondisi ini mengakibatkan penurunan nisbah C/N kompos mendekati kisaran C/N tanah yaitu antara 10 – 15.

Waktu yang dibutuhkan untuk menurunkan C/N tersebut dalam keadaan alami adalah berkisar antara 3 bulan hingga tahunan, namun dengan proses pengomposan yang berlangsung secara artificial, waktu pengomposan dapat dipersingkat dalam hitungan hari.

Proses pengomposan terjadi secara aerob (dengan udara) dan anaerob (tanpa udara). Dalam sistem aerob, kurang lebih 2/3 unsur Karbon (C) menguap (menjadi CO2) dan sisanya 1/3 bagian bereaksi dengan nitrogen dalam sel hidup. Selama proses pengomposan aerob tidak timbul bau busuk. Sedang dalam sistem anaerob, bakteri fakultatif penghasil asam menguraikan bahan organik menjadi asam lemak, aldehida, dll. Kemudian bakteri kelompok lain mengubah asam lemak menjadi metan, amoniak dan hidrogen.

Proses pengomposan aerob secara sederhana dapat dibagi menjadi dua tahap, yaitu tahap aktif dan tahap pematangan. Selama tahap-tahap awal proses, oksigen dan senyawa-senyawa yang mudah terdegradasi akan segera dimanfaatkan oleh mikroba mesofilik. Suhu tumpukan kompos akan meningkat dengan cepat. Demikian pula akan diikuti dengan peningkatan pH kompos. Suhu akan meningkat hingga di atas 50o– 70oC. Suhu akan tetap tinggi selama waktu tertentu. Mikroba yang aktif pada kondisi ini adalah mikroba termofilik, yaitu mikroba yang aktif pada suhu tinggi. Pada saat ini terjadi dekmposisi/penguraian bahan organik yang sangat aktif. Mikroba-mikroba di dalam kompos dengan menggunakan oksigen akan menguraikan bahan organik menjadi CO2, uap air dan panas. Setelah sebagian besar bahan telah terurai, maka suhu akan berangsur-angsur mengalami penurunan. Pada saat ini terjadi pematangan kompos tingkat lanjut, yaitu pembentukan komplek liat humus. Selama proses pengomposan akan terjadi penyusutan volume maupun biomassa bahan. Pengurangan ini dapat mencapai 30 – 40% dari volume/bobot awal bahan.

Metode Pengomposan

Ada beberapa macam metode pembuatan kompos yang metode dan bahan dasarnya disesuaikan dengan kondisi setempat. Berdasarkan kajian yang telah dilakukan oleh Tim Teknologi Kompos BPPT didapatkan kesimpulan bahwa dalam teknologi pembuatan kompos secara aerobik, sistem open windrow adalah yang paling tepat untuk diterapkan di Indonesia.

sumber foto: http://midwestbiosystems.com/

Pemilihan sistem tersebut berdasarkan konsepsi yang dapat dipertanggungjawabkan secara teknis, sosiologis dan ekonomis. Dengan sistem open windrow secara teknis tidak diperlukan sarana dan prasarana yang kompleks dan modern sehingga dapat diterapkan dengan mudah dan tepat guna. Demikian pula jumlah modal, biaya operasional dan biaya pemeliharaan tempat pengkomposan relatif lebih rendah dibandingkan dengan semua sistem pengkomposan lainnya. Sedangkan prosesnya sangat cocok dengan iklim tropika dimana kelembaban dan temperatur udaranya cukup tinggi dan stabil (25 sampai 30 oC).

Sistem open windrow adalah cara pembuatan kompos ditempat terbuka beratap (bukan di dalam reaktor yang tertutup dengan injeksi udara) dengan aerasi alamiah. Sampah akan yang dikomposkan ditumpuk memanjang dengan frekuensi pembalikan tertentu dan suhunya dikendalikan. Sistem ini telah dicoba oleh BPPT di Lokasi Daur Ulang Sampah di Tambakboyo Sleman, Yogyakarta, Rumah Pemotongan Hewan Cakung, Jakarta Timur dan Peternakan ayam di Tangerang dengan hasil kompos yang baik.

Penggunaan Aktivator Dalam Proses Pengomposan

Pada umumnya untuk memperoleh kompos yang baik diperlukan waktu enam sampai delapan bulan. Sehingga salah satu masalah yang penting untuk selalu diteliti adalah memperoleh metode pengomposan yang cepat, sehingga dapat mengurangi waktu pendaur ulangan residu organik. Usaha mempercepat proses pengomposan dapat dilakukan dengan memberikan inokulan mikroorganisme

Dekomposer/aktivator adalah mikroorganisme yang berfungsi untuk mempercepat proses penguraian bahan organik menjadi kompos. Beberapa jenis aktivator yang tersedia di pasaran atara lain Biodec, Stardec, EM-4, Fix-Up Plus, Harmony, dan yang lainnya.

Kandungan aktivator biodec, berupa mikroba trichoderma pseudokoningii dan cytophaga sp., mempunyai kemampuan menghancurkan bahan organik dalam waktu relatif singkat yaitu selama 14 – 21 hari. Kedua mikroba ini mengeluarkan enzim penghancur lignin dan selulosa secara bersamaan. Dengan hancurnya lignin dan selulosa, kadar karbon akan menurun dan nitrogen meningkat sehingga C/N menjadi kecil. Aktivator biodec dikemas dalam bentuk bubuk untuk pengomposan aerob, dan dalam bentuk cair untuk pengomposan anaerob.

Aktivator EM-4 merupakan kultur campuran berbagai jenis mikroorgenisme yang sangat banyak, sekitar 80 genus. Mikroorganisme tersebut dipilih yang dapat bekerja secara efektif dalam memfermentasikan bahan organik. Dari sekian banyak mikroorganisme, ada lima golongan yang pokok, yaitu bakteri fotosintetik, Lactobacillus sp., Streptomyces sp., ragi (yeast), Actinomycetes.

Mengukur Kualitas Kompos

Kualitas pupuk organik bergantung pada bahan dasarnya. Bahan dasar dari sisa tanaman sedikit mengandung bahan berbahaya, tetapi pupuk kandang, limbah industri dan limbah kota banyak mengandung bahan berbahaya seperti logam berat dan asam-asam organik yang dapat mencemari lingkungan. Selama proses pengomposan, bahan berbahaya ini terkonsentrasi dalam produk akhir yaitu pupuk, karena itu perlu ada peraturan mengenai seleksi bahan dasar kompos berdasarkan kandungan bahan-bahan berbahaya.

Ada beberapa hal yang dapat dijadikan parameter kualitas pupuk kompos, diantaranya:

  1. Kandungan air

    Bila dibandingkan dengan pupuk anorganik, kadar air pupuk organik sangat tinggi, sehingga diperlukan proses pengeringan hingga 30 – 35%;

  2. Kematangan kompos

    Ada beberapa parameter kematangan kompos, antara lain C/N ratio, pH, warna, suhu, dan aroma kompos;

  3. Bahan beracun

    Masalah utama dalam produksi kompos adalah hadirnya logam/bahan beracun yang berbahaya bagi manusia. Logam berat tersebur betupa Cd, Pb, dan Cr, unsur tersebut terserap oleh tanaman dan mengkontaminasi seluruh rantai makanan;

  4. Patogen

    Pupuk organik dapat membawa patogen dan telur serta serangga yang mengganggu tanaman dan bibit penyakit bagi manusia.

Usaha pemerintah dalam melindungi konsumen/petani dari peredaran pupuk organik yang tak layak, terangkum dalam PERATURAN MENTERI NO.2/Pert./HK.060/2/2006, tentang persyaratan teknis minimal pupuk organik, selengkapnya dapat dilihat dalam tabel berikut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: