Google+

Teknik Sampling

3

March 20, 2013 by ilhamzen09

Teknik sampling adalah teknik untuk mendapatkan sampel yang representative dari suatu populasi Teknik sampling meliputi dua hal, yaitu seberapa besar ukuran sampel yang digunakan dan bagaimana proses atau teknik penarikan sampel tersebut.

Besar Ukuran Sampel

Sampel yang baik sedapat mungkin dapat merepresentasikan karakteristik populasi, namun pertanyaan selanjutnya adalah berapa besar sampel yang digunakan sehingga dianggap mampu merepresentasikan populasi?

Jawabannya adalah tergantung dari tingkat kepercayaan (convidennce level) dan kesalahan (significance level) yang dikehendaki, semakin besar tingkat kepercayaan yang dikehendaki maka semakin banyak sampel yang dibutuhkan, dan sebaliknya semakin rendah tingkat kepercayaan yang dikehendaki maka semakin sedikit sampel yang dibutuhkan. Dalam prakteknya dilapangan, besar kecilnya tingkat kepercayaan yang dikehendaki sangat bergantung pada kecukupan tenaga, waktu dan biaya yang dimiliki oleh si peneliti.

Banyak metode yang dapat digunakan untuk menghitung besarnya sampel, dalam artikel ini akan dibahas cara menghitung besar sampel dengan metode yang dikembangkan oleh Isaac dan Michael, dan juga dengan menggunakan Nomogram Harry King.

  1. Metode yang dikembangkan oleh Isaac dan Michael adalah cara untuk menentukan jumlah sampel yang memenuhi syarat berikut: (1) diketahui jumlah populasinya; (2) pada taraf kesalahan (significance level) 1%, 5% dan 10%; dan (3) cara ini khusus digunakan untuk sampel yang berdistribusi normal, sehingga cara ini tidak dapat digunakan untuk sampel yang tidak berdistribusi normal, seperti sampel yang homogen.

    Cara menggunakan metode ini sangat praktis, cukup dengan mencocokkan jumlah populasi dengan taraf kesalahan (significance level) yang dikehendaki.

    Contohnya adalah bila seseorang ingin melakukan penelitian pada sebuah sekolah dengan jumlah murid sebanyak 500 orang, dan peneliti tersebut menetapkan taraf kesalahan (significance level) sebesar 5%, maka jumlah sampel yang digunakan adalah 205 orang.

  2. Selain penentuan jumlah sampel dengan menggunakan tabel (1), cara lain yang bisa digunakan adalah dengan menggunakan nomogram Harry King, cara ini juga mempersyaratkan data harus kesalahan yang bervariasi mulai 0,3% sampai 10%.

    Cara penggunaannya juga praktis, misalnya populasi berjumlah 200 orang, bila tingkat kepercayaan yang dikehendaki adalah 5%, maka jumlah sampel yang diambil adalah:

    n = 200 x (58%) x 1,195

    = 138,62 ˜ 139 orang

    Keterangan:
    o Angka 58% didapat dari nomograf dengan menarik garis lurus melewati angka 200 dan taraf kesalahan 5%,
    o 1,195 adalah faktor pengali dari selang kepercayaan 95%

Teknik Pengambilan Sampel

Selain jumlah sampel, hal yang juga sangat penting diperhatikan dalam pemilihan sampel penelitian adalah bagaimana cara/teknik pengambilan sampel (teknik sampling), teknik sampling dikembangkan agar tidak terjadi bias dalam pemilihan sampel .

Secara umum, teknik sampling dapat dibagi kedalam 2 metode, yaitu metode acak (probability sampling) dan metode tak acak (non probability sampling).

  1. Metode acak (Probability sampling) adalah metode pemilihan sampel dimana setiap anggota populasi memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih, teknik ini meliputi simple random sampling, systematic sampling, stratified sampling, dan cluster sampling.
    1. Simple Random Sampling

      Simple random sampling adalah teknik pengambilan sampel sederhana yang dilakukan secara acak, dikatakan sederhana karena pemilihan sampel dilakukan tanpa harus memperhatikan strata yang ada pada populasi tersebut. Teknik ini dapat dianggap representative hanya bila dilakukan pada anggota populasi yang diasumsikan homogen.

      Cara menggunakan teknik ini tergolong sangat mudah, yaitu dengan menggunakan Tabel Acak ataupun dengan melakukan pengundian atas masing-masing anggota populasi yang telah diberi nomor. Cara lain melakukan pengacakan adalah dengan menggunakan kalkulator (tipe kalkulator tertentu misalnya “Casio fx 3600 pv”), ataupun dengan menggunakan program komputer (misalnya Program “Microsoft Excel”). Namun dari sekian alternatif tersebut, pengundian dengan tabel acak lebih direkomendasikan sebab lebih mudah dilakukan pengecekan ulang bila ada pihak-pihak tertentu yang meragukan validitas sampel yang terpilih.

    2. Systematic Random Sampling

      Metode pengambilan sampel acak sistematis (Systematic Random Sampling) adalah metode pengambilan sampel dengan interval tertentu dari kearangka sampel yang telah ditentukan. Misalnya peneliti ingin melakukan observasi terhadap pedagang sebuah pasar yang jumlahnya 2000 kios, dan jumlah kios yang ditetapkan sebagai sampel adalah 20 kios.

        • Pertama yang harus dilakukan adalah melakukan pendaftaran terhadap seluruh anggota populasi dan diberi nomor secara acak.
        • Tetapkan jumlah anggota kelompok (k) dihitung dengan rumus:

      • Pilih secara acak sebuah angka pada tabel random yang nantinya menjadi Random Start, yang nilainya lebih besar dari 1, tapi lebih kecil dari nilai k (1> Random Start > k=100). Dalam hal ini nilai Random Start yang terpilih adalah “10042” (baris 5 kolom 1), dimana dua angka terakhir bilangan tersebut (“42”) nilainya lebih besar dari “1” dan lebih kecil dari “100” (1 > 42 < 100).
      • Satuan-satuan sampling lainnya dipilih secara sistematis dengan menambahkan angka yang terpilih dengan nilai k (k=100):

      • Dengan demikian satuan-satuan sampling yang terpilih adalah 0042, 0142, 0242, 0342, 0442, 0542, 0642, 0742, 0842, 0942, 1042, 1142, 1242, 1342, 1442, 1542, 1642, 1742, 1842, 1942.
    3. Stratified Sampling

      Metode pengambilan sampling berstrara (Stratified Sampling) adalah metode pemilihan sampel dimana populasi yang heterogen dibagi-bagi menjadi beberapa kelompok yang homogen, lalu kemudian sampel dipilih secara acak dari kelompok teresebut.

    4. Cluster Sampling

      Cluster sampling adalah metode pemilihan sampel dimana unit samplingnya adalah kumpulan atau kelompok elemen, dimana elemen (unit observasi) dari masing-masing kelompok (cluster) bisa sama ataupun berbeda jumlahnya.

      Misalnya seorang peneliti ingin mengetahui tingkat kepuasan konsumen terhadap infrastruktur yang telah dibuat oleh pihak developer sebuah perumahan. Perumahan tersebut dihuni oleh 120 rumah tangga yang secara geografis terbagi kedalam 12 blok, dimana masing-masing blok terdiri dari 10 rumah tangga. Bila peneliti menetapkan jumlah sampel sebagai responden adalah 50 rumah tangga, maka jumlah blok yang menjadi sampel adalah 5 blok (50 : 10 = 5 blok).

      Secara sederhana, metode pemilihan sampel metode cluster adalah sebagai berikut:

      Buat kerangka sampel yang terdiri atas 12 blok dan beri nama blok tersebut (dalam hal ini blok A, B, C, D, E, F. G, H, I, J, K dan L), dimana masing-masing blok terdiri atas 10 rumah tangga, sehingga total populasi terdiri atas 120 rumah tangga.

      Pilih secara acak 5 blok yang menjadi sampel, baik dengan cara mengundi ataupun menggunakan tabel acak, dalam hal ini blok yang terpilih secara acak dengan pengundian adalah blok A, D, G, J dan L.

      Masing-masing rumah tangga yang ada pada blok A, D, G, J dan L, adalah sampel terpilih yang selanjutnya akan menjadi responden.

  2. Metode tak acak (Non Probability Sampling) adalah teknik pemilihan sampel yang tidak didasarkan atas hukum probabilitas, dan oleh sebab itu tidak mengharuskan adanya peluang yang sama terhadap anggota populasi untuk dipilih, pemilihannya berdasarkan kriteria-kriteria subjektif tertentu, namun kriterianya harus tetap jelas sehingga tidak menimbulkan bias. Yang perlu diperhatikan dalam penggunaan metode tak acak adalah bahwa teknik ini hanya digunakan bila tujuan penelitian sekedar mendeskripsikan sebuah objek penelitian tanpa melakukan generalisasi terhadap populasi. Yang termasuk dalam metode ini adalah: Convenience Sampling, Purposive Sampling, Quota Sampling, dan Snowball Sampling.
  3. Convenience Sampling

    Pengambilan sampel dengan teknik convenience sampling didasarkan pada ketersediaan dan kemudahan mendapatkannya. Penarikan sampel dengan teknik ini nyaris tidak dapat diandalkan namun dalam kondisi tertentu dirasakan sangat bermanfaat karena biayanya murah, dan sangat mudah dilaksanakan karena peneliti memiliki kebebasan untuk memilih siapa saja menjadi responden atau apa saja yang dia temui sebagai sampel.

  4. Purposive Sampling

    Pengambilan sampel dengan teknik purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel yang dietapkan secara sengaja oleh peneliti, yang tidak murni berdasarkan kriteria subjektif sipeneliti, namun didasarkan pada tujuan (purposive) dan pertimbangan-pertimbangan (Judgment) tertentu. Pengambilan sampel dengan teknik purposive sampling cocok digunakan bila si peneliti adalah peneliti yang sudah berpengalaman dan ahli (expert) dibidangnya, oleh sebab itu metode ini juga sering diistilahkan dengan Expert Sampling.

    Misalnya seseorang ingin melakukan penelitian tentang “Pengaruh Drainase Tanah Terhadap Produktivitas Tanaman Kakao”, Karena tujuannya adalah meneliti pengaruh Drainase Tanah, maka sampel yang digunakan adalah lahan kakao dengan kelas drainase tanah : cepat, sedang dan terhambat. Peneliti yang berpengalaman dan ahli (expert) dibidang pertanian, tentu sudah faham betul, mana lahan yang drainasenya tergolong cepat, sedang dan terhambat.

  5. Quota Sampling

    Pengambilan sampel dengan teknik quota sampling adalah teknik pengambilan sampel berdasarkan jumlah tertentu, secara proporsional dari masing-masing sub-populasi. Teknik ini umumnya digunakan dalam pengumpulan pendapat umum (public opinion polls). Dalam aplikasinya, teknik ini umumnya dilaksanakan dalam 2 tahap, yaitu perumusan kategori kontrol dari populasi yang akan diteliti, dan penentuan bagaimana teknik pengambilan sampel, apakah menggunakan teknik convenience sampling atau purposive sampling.

    Misalnya akan diteliti kebiasaan menonton televisi penduduk suatu daerah yang berjumlah 73.289 orang, quota sampling akan dilaksanakan dengan kriteria: (1) Jenis kelamin (pria dan wanita); (2) Usia (< 17 tahun, 18-45 tahun, 45-60 tahun, > 60 tahun). Jumlah sampel yang ditetapkan berjumlah 10.000 orang.

    Berdasarkan informasi tersebut, maka dapat dihitung komposisi sampel adalah:

    persentase masing-masing kriteria x n

    Sehingga proporsi jumlah sampel adalah sebagai berikut:

  6. Snowball Sampling

    Teknik sampling bola salju (snowball sampling) adalah teknik penarikan sampel yang dilakukan secara berantai, mulai dari responden yang sedikit, kemudian responden ini dimintai pendapatnya tentang siapa saja responden lain yang dianggap otoritatif untuk dimintai informasinya, sehingga jumlah responden semakin banyak jumlahnya dan diharapkan informasipun yang didapa juga semakin banyak. Ibarat bola salju (snowball) yang menggelinding, semakin lama semakin besar.

3 thoughts on “Teknik Sampling

  1. Rian Saputra says:

    Saya ingin bertanya tentang cluster sampling, bagaimana menetapkan jumlah 5 blok yang dipilih secara acak itu? Kenapa tidak 3 blok atau 2 blok… apakah ada teori yang menentukan atau bagaimana?

    • david jeda says:

      Dalam populasi penelitian yang akan saya lakukan berjumlah 528 orang guru dari jumlah 13 SMA Negeri. Bagaimanakah saya harus mengambil rumus sampelnya?

  2. david jeda says:

    Judul Tesis: Pengaruh Kepemmpinan Kepala Sekolah dan Kompensasi Terhadap Kepuasan Kerja Guru SMA Negeri di Kota ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: