Google+

Tanah Gambut

Leave a comment

March 20, 2013 by ilhamzen09

Definisi Tanah Gambut

Kata Gambut diambil dari nama suatu desa, yaitu desa Gambut (kini kecamatan Gambut), yang terletak sekitar 10 km di sebelah timur kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, dimana untuk pertama kalinya padi berhasil dibudidayakan pada persawahan tanah gambut.

Dalam sistem Klasifikasi Tanah Soil Taxonomy tanah gambut yang biasanya disebut organic soils, bog soils, tanah merawang (half-bog soils), mucks, atau peats dikelompokkan menjadi satu ordo tanah tersendiri yang disebut Histosols. Histosols: ’merupakan tanah yang secara dominan tersusun dari bahan tanah organik, berupa sisa-sisa jaringan tumbuh-tumbuhan (histos = tissue = jaringan tumbuh-tumbuhan)’. Dalam klasifikasi tanah di Indonesia tanah gambut diklasifikasi sebagai ’Organosol’.

Dalam Soil Survey Staff (2003) Tanah dapat dikategorikan sebagai gambut berdasarkan kandungan C-Organik dan Kandungan liatnya; Bila fraksi mineral liatnya 0%, maka kadar C organiknya minimal 12%,  namun bila fraksi liatnya >60%, maka C organiknya harus lebih 18%.  Selain dicirikan oleh kandungan liat dan kadar C-organiknya, syarat suatu tanah dikatakan gambut juga dicirikan oleh ketebalan dan bulk density-nya. Tanah yang memiliki lapisan bahan organik dengan berat jenis (BD) dalam keadaan lembab 0,1 g cm-3 dengan tebal 60 cm atau lapisan organik dengan BD 0,1 g cm-3 dengan tebal 40 cm

Proses pembentukan gambut dimulai dari adanya danau dangkal yang secara perlahan ditumbuhi oleh tanaman air dan vegetasi lahan basah. Tanaman yang mati dan melapuk secara bertahap membentuk lapisan yang kemudian menjadi lapisan transisi antara lapisan gambut dengan substratum (lapisan di bawahnya) berupa tanah mineral. Tanaman berikutnya tumbuh pada bagian yang lebih tengah dari danau dangkal ini dan secara membentuk lapisan-lapisan gambut sehingga danau tersebut menjadi penuh (Gambar 1a dan 1.b), bagian gambut yang tumbuh mengisi danau dangkal tersebut disebut dengan gambut topogen karena proses pembentukannya disebabkan oleh topografi daerah cekungan. Tanaman tertentu masih dapat tumbuh subur di atas gambut topogen. Hasil pelapukannya membentuk lapisan gambut baru yang lama kelamaan membentuk kubah (dome) gambut yang permukaannya cembung (Gambar 1.c). Gambut yang tumbuh di atas gambut topogen dikenal dengan gambut ombrogen.

Sumber Gambar: Agus, F. dan I.G. M. Subiksa. 2008. Lahan Gambut: Potensi untuk Pertanian dan Aspek Lingkungan. Balai Penelitian Tanah dan World Agroforestry Centre (ICRAF), Bogor, Indonesia

Karakteristik Gambut

Sifat dan ciri tanah gambut dapat ditentukan berdasarkan sifat fisik dan kimianya. Sifat Fisik dan kimia tersebut berupa:

  1. Warna. Gambut berwarna coklat tua sampai kehitaman, meski bahan dasarnya berwarna kelabu, cokelat atau kemerah-merahan, tetapi setelah mengalami dekomposisi muncul senyawa humik berwarna gelap;
  2. Berat isi. Berat isi tanah organik bila dibandingkan tanah mineral adalah rendah. Tanah gambut yang telah mengalami dekomposisi lanjut memiliki berat isi berkisar antara 0,2 – 0,3;
  3. Kapasitas menahan air. Akibat berat isi yang rendah, maka gambut memiliki kapasitas menyimpan air yang besar, sekitar 2 – 4 kari dari berat bobot keringnya, bahkan gambut lumut yang belum terdekomposisi dapat menyimpan air 12 atau 15 bahkan 20 kali dari bobotnya sendiri;
  4. Sifat kolidal. Tanah gambut memiliki luas adsorbsi yang besar, yaitu sampai 4 kali lebih besar dibanding liat montmorillonit;
  5. Reaksi masam. Dekomposisi bahan organik akan akan menghasilkan asam-asam organik yang terakumulasi pada tubuh tanah, sehingga akan meningkatkan keasaman tanah gambut;
  6. Sifat penyangga. Umumnya tanah gambut memperlihatkan daya resistensi yang nyata terhadap perubahan pH bila dibandingkan dengan tanah mineral. Akibatnya, tanah gambut membutuhkan lebih banyak kapur untuk menaikkan pH pada tingkat nilai yang sama dengan tanah mineral. Begitupun tanah gambut membutuhkan dosis pupuk yang lebih tinggi dari tanah mineral;
  7. Kadar unsur hara. Kadar N dan bahan organik tinggi pada tanah gambut juga mempunyai perbandingan C dan N yang tinggi, namun walaupun demikian prosis nitrifikasi N juga tinggi, akibat tingginya kadar N, cukup Ca dan tidak aktifnya sebagian karbon dari bahan yang resisten, sehingga kegiatan organisme heterotropik tidak terlalu dirangsang, akibatnya organisme yang aktif dalam proses nitrifikasi memperoleh kesempatan melakukan aktifitasnya. Selain itu, kadar P dan K tanah gambut umumnya rendah dibanding tanah mineral, oleh sebab itu tanaman yang diusahakan diatas tanah gambut sangat respon terhadap pemupukan P dan K.

Berdasarkan ciri kematangannya, tanah gambut dibedakan atas fibrik, saprik dan hemik. Fibrik adalah bahan organik dengan tingkat penguraian yang masih rendah, kandungan serabut sangat banyak, kerapatan jenis < 0,1 g/cm3, kadar air tinggi dan berwarna kuning sampai pucat; hemik adalah bahan organik dengan tingkat penguraian menengah, kandungan serabut masing banyak, kerapatan jenis 0,07 – 0,18 g/cm3, kadar air tinggi dan berwarna cokelat muda sampai tua; sedang saprik adalah bahan organik dengan tingkat penguraian lanjut, kandungan serabut sedikit, kerapatan jenis > 0,2 g/cm3, kadar air tidak terlalu tinggi dan berwarna cokelat kelam sampai hitam.

Pemanfaatan Lahan Gambut Untuk Pertanian

Sesuai dengan arahan pemanfaatan lahan gambut untuk budidaya kelapa sawit Nomor : 14/Permentan/PL.110/2/2009 dinyatakan bahwa:

“Pengusahaan budidaya kelapa sawit pada dasarnya dilakukan di lahan mineral. Oleh karena keterbatasan ketersediaan lahan, pengusahaan budidaya kelapa sawit dapat dilakukan di lahan gambut dengan memenuhi kriteria yang dapat menjamin kelestarian fungsi lahan gambut, yaitu: (a) diusahakan hanya pada lahan masyarakat dan kawasan budidaya, (b) ketebalan lapisan gambut kurang dari 3 (tiga) meter, (c) substratum tanah mineral di bawah gambut bukan pasir kuarsa dan bukan tanah sulfat masam; (d) tingkat kematangan gambut saprik (matang) atau hemik (setengah matang); dan (e) tingkat kesuburan tanah gambut eutropik”.

Persyaratan ketebalan gambut < 3m sebagai lahan pertanian adalah dalam rangka pertimbangan konservasi dan pertimbangan praktis, bahwa semakin tebal gambut, semakin penting fungsinya dalam memberikan perlindungan terhadap lingkungan, dan sebaliknya semakin rapuh (fragile) jika dijadikan lahan pertanian. Pertanian di lahan gambut tebal lebih sulit pengelolaannya dan mahal biayanya karena kesuburannya rendah dan daya dukung (bearing capacity) tanahnya rendah sehingga sulit dilalui kendaraan pengangkut sarana pertanian dan hasil panen.

Kubah gambut berfungsi sebagai penyimpan air (resevoir) yang bisa mensuplai air bagi wilayah di sekitarnya, terutama pada musim kemarau, baik untuk air minum maupun usaha tani. Pada musim hujan kawasan ini berfungsi sebagai penampung air yang berlebihan sehingga mengurangi risiko banjir bagi wilayah di sekitarnya. Hal ini dimungkinkan karena gambut memiliki daya memegang air sangat besar yaitu sampai 13 kali bobot keringnya. Perlindungan terhadap kawasan tampung hujan akan menjamin kawasan sekitarnya menjadi lebih produktif.

Permasalahan yang juga sangat prinsip dalam pengolahan gambut adalah masalah drainase, karena apabila lahan rawa gambut di suatu wilayah dibuka untuk pertanian, maka harus dibuat saluran-saluran berukuran besar (saluran primer dan sekunder) untuk,mengeringkan lahan. Dampak negatif dari digalinya saluran-saluran tersebut adalah air tanah berangsur turun dan lahan berangsur mengering. Pada lahan rawa gambut yang di bawahnya terdapat bahan sulfidik, berakibat bahan sulfidik khususnya pirit menjadi terbuka (exposed) di udara dan mengalami oksidasi. Keberadaan bahan sulfidik pada akhirnya menjadi permasalahan utama karena bersifat racun bagi tanaman, sehingga hampir semua tanaman pertanian mati, atau tidak mampu tumbuh dalam kondisi ekstrim tersebut.

Perbedaan Tanah Gambut dan Mineral

Tanah mineral adalah tanah yang terbentuk dan berkembang dari bahan mineral, melalui proses pelapukan, baik secara fisis maupun kimia, dibantu oleh pengaruh iklim, menyebabkan batuan terdisintegrasi menjadi bahan induk lepas, dan selanjutnya dibawah pengaruh proses-proses pedogenesis berkembang menjadi tanah.

Hal yang membedakan antara tanah mineral dan tanah gambut adalah terletak pada kandungan C-organik, struktur, berat isi, serta sebaran karbon di dalam profil. Kandungan C-organik tanah gambut berkisar antara 18 – 60 %; tidak berstruktur; berat isi berkisar antara 0,03 – 0,3 g/cm3; dan karbonya tersebar di seluruh permukaan, sedang tanah mineral mengandung C-organik berkisar antara 0,5 – 6 %; berstruktur; berat isinya berkisar antara 0,6 – 1,5 g/cm3, serta kandungan karbonnya terkonsentrasi pada lapisan 0 – 30 cm dari permukaan.

———–

Bagi yang butuh referensi tentang gambut, disini saya tampilkan beberapa referensi yang dapat anda download langsung lewat link resminya:

    1. Agus, F. dan I.G. M. Subiksa. 2008. Lahan Gambut: Potensi untuk Pertanian dan Aspek Lingkungan. Balai Penelitian Tanah dan World Agroforestry Centre (ICRAF), Bogor, Indonesia.

    2. Nurida, L.N., A.Mulyani dan F. Agus. 2011. Pengelolaan Lahan Gambut Berkelanjutan. Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian-Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Bogor, Indonesia

    3. Hartatik, W., I.G. M. Subiksa dan A. Dariah. Sifat Kimia Tanah Gambut. Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian-Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Bogor, Indonesia

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: